Indahnya Tidak Bersikap Impulsif
Ada satu pembelajaran saya temui di seminggu kemarin: Terkadang, kita perlu belajar untuk merelakan sesuatu kita inginkan. Siapa tahu kita mendapatkan ganti yang lebih baik.
Sebuah pemikiran sangat filosofis, bukan?
Dari mana asal pikiran ini?
Hidup Bisa Mengejutkan dan Tidak Bersikap Impulsif Membuatnya Lebih Indah
Pikiran ini muncul kala saya ingin membeli satu donat Chocolate Jimmies dari Dunkin Donut (itu lho, donat meses cokelat) untuk saya sendiri. Waktu itu saya ada kesempatan untuk pergi keluar rumah seorang diri dan berniat membelinya ketika pulang.
Tetapi keinginan itu tak terwujud karena saya merasa lelah dan ingin cepat pulang.
(Gimana sih, Grace? Hahaha)
Saya tidak marah kepada diri sendiri atas perilaku tersebut. Bahkan, saya meyakinkan diri sendiri kalau bisa saja belum waktunya saya menikmati donat cokelat meses itu.
Selang beberapa hari, saya tak menyangka saya menemukan donat cokelat meses yang tak sama seperti Dunkin Donut, tetapi tak kalah enak!
Ada juga di suatu kesempatan saya bersama ayah-ibu dan kakak perempuan-kakak ipar saya makan siang di Kana by Kenanga di Patal Senayan, tiba-tiba saya ingin menyantap mie babi (Oh iya, saya lupa kasih tahu kalau restorannya non halal.) Padahal saya sudah memesan nasi campur komplit.
Tentu saja saya tak mendapatkan mie tersebut. Namun, saya kembali tak cepat-cepat marah kepada diri sendiri.
Apakah pada akhirnya saya dapat kesempatan menyantap mie? Ya!
Saya menyantapnya di satu rumah makan bernama Binatu An. Mie nya kesukaan saya, mie karet.
Jadi, apa inti dari kisah ini?
Selain belajar untuk sabar, tidak impulsif dan memaksakan diri saat tak bisa memiliki itu mendatangkan keberkahan tersendiri. Seringkali kita malah dapat yang terbaik.
Salam


seperti remainder untuk diri sendir,, cerita yg singkat tpi ada makna
BalasHapus