"Satu Kaleng Cap Harapan" - Kejutan! (Cerpen)
[Cerita pendek ini dapat dibaca di buku kumpulan cerpen saya berjudul "Satu Kaleng Cap Harapan", segera di gwp.id!]
Ide pergi ke Magelang dari Semarang dan berangkat dari pukul lima pagi dari Rina sungguh melelahkan. Entah dapat dari mana saudari berusia lima tahun lebih muda dariku ide gila ini. Sudah begitu, dia mengajak kedua teman kuliahnya dan aku untuk mengunjungi Candi Borobudur, yang baru buka jam sepuluh pagi! Mendingan aku tidur lagi saja! Aku sendiri heran kenapa aku mau-mau saja mengikuti mereka.
"Kak Ira, ayo!" lengkingan suara Rina bangunkan sejenak dari rasa kantuk.
"Iya, bentar!"
Aku duduk di kursi penumpang depan, dan Uri yang menyetir mobil. Teman kuliah Rina ini mengatur posisi spion kiri, kanan, dan tengah. Rina dan Ningsih duduk di kursi penumpang tengah.
Selama mobil lintasi jalan raya, aku hanya melihat tempat-tempat di sekitar masih sepi. Tidak banyak kendaraan lalu-lalang bersama mobil milik Uri. Aku memlih untuk rebahkan kepala di jok kursi mobil dan tidur. Perlahan suara dua perempuan muda di belakang 'ku tak terdengar.
Saat kedua mataku terbuka, aku melihat jam di mobil. Pukul tujuh pagi, lalu aku melihat ke arah Uri. Lelaki muda ini masih bisa menyetir. Kedua matanya tidak terlihat lelah. Sebenarnya aku ingin menawarkan diri untuk gantian duduk di kursi pengemudi, namun teringat kalau aku belum pernah belajar menyetir sama sekali.
"Eh, kak Ira!" tiba-tiba lelaki di sebelahku menyapa diriku ramah. "Gantian Rina sama Ningsih yang tidur."
Terlihat dari layar smartphone 'ku kalau kedua perempuan muda itu tidur nyenyak. Tubuh mereka sama sekali tak terganggu akan laju mobil yang melintasi jalan tol Semarang-Yogyakarta.
"Kamu gak mau istirahat dulu, Ri?"
"Gak apa, kak. Nanti istirahatnya begitu kita mampir tempat makan Sop Senerek."
Bahan pembicaraan kami habis. Suasana kembali sepi.
Mobil Toyota Innova berwana hitam milik Uri berhenti di sebuah tempat makan yang menjual Sop Senerek. Ningsih langsung terbangun begitu Uri, pacarnya, menoleh ke belakang dan membangunkannya. Kami berempat sempatkan menyantap sarapan di sana. Rina menambah dua mangkuk sup.
"Ya ampun! Kamu laper banget ya?" Ningsih heran melihat tiga mangkuk di sekitar temannya. Rini hanya tersenyum meringis.
"Ada-ada aja kamu, Rin," kataku sambil gelengkan kepala.
"Namanya juga sarapan, kak!" balas Rini.
***
Rina buka pintu mobil dan keluar dari mobil lebih dulu sebelum aku. Terlihat sekali dia tak sabar menjelajah Candi Borobudur. Ningsih meregangkan badan saat dia keluar dari mobil, dan Uri langsung mengunci mobil begitu semua penumpang keluar dari mobil.
"Rin, kita ke toilet dulu ya!" Ningsih gerakkan tubuhnya seperti orang tak bisa menahan sesuatu. "Duduk lama-lama di mobil bikin kebelet!"
"Ya udah, yuk."
Dua perempuan muda itu pergi tinggalkan Uri dan aku. Kami langsung membeli tiket masuk sambil menunggu mereka kembali dari toilet. Setelah membeli tiket, Uri lambaikan tangan ke arah Ningsih sambil tersenyum.
"Dasar orang yang lagi kasmaran!" umpatku dalam hati. "masa manggil orang gak panggil namanya?"
Aku makin dibuat heran karena Ningsih langsung berlari tinggalkan Rina. Sepupu 'ku dan aku sama-sama geleng-gelengkan kepala. Akhirnya kami berempat masuk ke candi. Suasana di sekitar bangunan tempat ibadah sangat tenang. Ada beberapa orang juga berjalan kelilingi candi. Ningsih dan Uri jalan lebih dulu, sementara Rina ikut temannya. Aku hanya ikuti tiga anak muda di depanku saja.
Jujur, aku sangat merindukan kasur di kamar tamu nya Rina!
***
Hanya berselang satu jam, Candi Borobudur sudah mulai padat akan pengunjung! Padahal ini baru hari Jumat!
Saat aku di bagian tengah candi, sekumpulan anak remaja sedang berlari-lari melewati 'ku. Aku langsung tersadari aku tertinggal rombongan kecil 'ku sendiri. Ya sudah! Jalan-jalan sendiri saja! Toh, Rina belum hubungi aku ini!
Aku sedang mencoba ajak kedua mata untuk menikmati pemandangan sekitar. Tangan kiriku mulai sentuh bentuk demi bentuk relief di dinding candi. Suara-suara para pengunjung terus masuk ke telingaku, dan aku bisa tahu apakah sisi candi yang aku kunjungi sedang banyak orang atau tidak. Sinar matahari perlahan membakar kulit kedua tanganku, padahal sudah tertutupi lengan panjang dari kausku.
***
Rina, Uri, dan Ningsih ada di mana ya? Dari tadi aku tak melihat mereka! Sudah begitu, aku sepertinya kesasar. Baru aku sadari kalau aku ada di dekat area stupa utama! Dan aku hanya melihat banyaknya pengunjung lalu-lalang di area candi ini.
"Permisi, kak!" Ada seorang bapak memanggil aku, otomatis aku menoleh ke arah suara itu berasal. "Saya boleh minta tolong fotoin keluarga saya?"
"Oh! Boleh, boleh," cepat-cepat aku berjalan ke arah sang bapak. Tiba-tiba bapak itu memanggil seseorang tak jauh dariku. Ada seorang lelaki terlihat seusia dengan 'ku berjalan ke arah sang bapak. Seketika pandangan mataku tak bisa lepas dari sosok lelaki ini. Mulai dari jaket merah yang dia pakai, bentuk wajah dan kacamata yang dia pakai, sampai aku menyadari tatapan matanya juga menatap kedua mataku. Aku tak bisa menghitung berapa lama dia dan aku saling menatap.
"Kak?" Seketika tatapan mata lelaki itu dan aku terhenti karena suara ayahnya.
"Eh iya! Maaf, pak!"
"Gak apa, kak!" sang bapak memberikan smartphone nya kepada aku. "Ini ya, kak."
Aku mengarahkan pose foto keluarga sang bapak, dan memotret sebanyak dua kali. Saat aku menyerahkan kembali smartphone ke lelaki berusia sekitar lima puluhan di depanku, beliau tampak kurang puas akan hasil potret 'ku.
"Kak Ira!" aku terkejut mendengar suara Uri sedikit berteriak memanggil aku. "Ternyata kakak di sini!" Lelaki itu langsung berjalan ke arahku. Bahkan, dia langsung menawari diri untuk memotret ulang foto keluarga yang berdiri di depan kita.
Barangkali ada magnet yang tak terlihat di antara lelaki itu dan aku. Saat ini aku berjuang sekuat tenaga agar aku bisa hindari menatap lelaki itu. Selama aku tak sengaja menatap lama dirinya, waktu terasa berhenti begitu saja. Tak ada suara masuk ke telingaku sama sekali. Kesadaranku baru datang saat Uri panggil namaku.
"Kalau begitu, kami permisi dulu ya, pak!" Ujar Uri setelah dia mengembalikan smartphone sang bapak. Aku juga ikut permisi dan mengikuti lelaku muda di depanku. Jantungku masih rasakan detak jantung yang sedikit tak teratur.
***
Kami berempat pergi dari Candi Borobudur pukul setengah satu siang. Selama perjalanan keluar dari tempat parkir, aku tak bisa mendengar jelas nama rumah makan yang sedang disebut-sebut Uri, Ningsih, dan Rina. Bahkan aku sama sekali tak tahu Rina ternyata berbicara denganku kalau saudariku tak menepuk pundakku.
"Kamu kenapa, kak?" tanya saudariku ketika aku menoleh ke arahnya.
"Enggak...," aku coba sadarkan diri. "Enggak apa-apa. Kita mau ke mana?"
"Kita mau cobain satu rumah makan rumahan, kak." Jawab Uri.
"Kata ibuku enak masakannya." Ningsih ikut menjawab.
"Oh, kalo gitu kita ke sana aja!"
Aku tak mengerti sama sekali dengan tingkah anak muda di sekitarku. Ningsih dan Rina saling melihat satu sama lain, sementara Uri curi-curi pandang kepadaku di saat dia sedang fokus menyetir.
"Kalian kenapa deh?"
"Justru kakak yang kenapa!" balas Rina.
Ningsih melihat Rina sebentar sebelum berkata, "Iya, kita lihat kakak dari tadi senyam-senyum sendiri."
"Pasti gara-gara dimintain tolong foto sama bapak tadi, ya?" Rina dan Ningsih sedikit tertawa setelah Uri menimpali ucapan Ningsih.
"Eh iya! Pasti gara-gara itu!" Rina heboh sekali mengatakannya. Ningsih dan Uri semakin membuat suasana canggung dengan tertawa-tawa mendengar ucapan saudariku.
Meskipun aku merasa sangat malu diejek anak-anak muda di dekatku saat ini, aku tak bisa kendalikan rasa bahagia dalam diriku ini. Kejadiannya sangat cepat dan aku sama sekali tak menyangka ini bisa terjadi. Seketika aku bisa mengenal lagi satu hal kecil yang bisa buat diriku bahagia, meskipun aku tak mengenal sama sekali sosok yang buat diriku seperti ini. Di pikiranku hanya terputar lelaki berjaket merah yang terus-menerus aku pandangi. Apakah sosok lelaki ini akan menjadi seseorang terpenting di kehidupanku nanti?
Semoga aku bisa bertemu dirinya kembali suatu hari lagi, dan bisa mengenal namanya!
1. Sebuah masakan khas Magelang di mana kaldu sup bening, berisikan daging sapi, kacang merah, dan wortel.
Terima kasih sudah menyempatkan untuk membaca!

Komentar
Posting Komentar