Menangis Seorang Diri Ditemani Nyamuk

Semalam, saya dimarahi di depan anak remaja oleh seseorang karena saya bertanya apakah akan ada yang datang lagi ke rumah.
Rasanya tak enak sekali di hati dan benar-benar tidak bisa dimengerti. Mengapa lawan bicara saya marah?
Saya banyak diam pada awal-awal. Saat beliau selesai ungkapkan kekesalan, saya katakan yang beliau lakukan akan terasa sangat kejam bila ada orang lain bertanya lebih dari satu kali kepada beliau.
Air mata baru bisa saya keluarkan saat beliau jauh dari saya dan saya pergi ke taman depan rumah.
Di taman depan rumah, suasana sangat sepi. Ditambah nyamuk-nyamuk banyak berlalu-lalang. Di saat itulah aku bebas menangis.
Menangisi kenapa aku dimarahi, betapa tak enak rasanya mendapat perlakuan seperti itu, dan sampai di tahap aku memutuskan untuk menerima apa yang baru saja terjadi. Aku juga berkata pada diri sendiri untuk belajar menghadapi orang lain lebih baik dari sosok beliau tersebut.
Bagiku, justru kita lah yang perlu mengerti cara terbaik dalam menyikapi situasi seperti itu. Memang terdengar melelahkan terus ditanya-tanya, namun memarahi orang itu (apalagi di depan banyak orang) untuk mendiamkannya juga tak benar).
Lalu, sikap yang benar itu seperti apa?
Dengarkan saja dahulu pertanyaannya.
Siapa tahu orang tersebut memang tidak mengerti apa yang kita minta dia lakukan. Siapa tahu dia tidak tahu cara mengoperasikan sesuatu. Apapun situasinya, kita tak perlu hadirkan pertikaian di antara dia dan kita hanya karena dia bertanya.
Memang, bicara atau tulis begini saja gampang. Menerapkannya itu yang tak mudah. Meski begitu, mari kita coba memahami orang lain dengan mendengarkan.
Kita saja ingin didengarkan ketika kita bertanya, masa mereka tidak?
Terima kasih sudah menyempatkan untuk membaca!

Komentar
Posting Komentar