Refleksi dan Keputusan Dari Sebuah Cerita

Oh iya, dari cerita-cerita perjalanan ke Belanda dan Belgia kemarin, saya belum menceritakan pengalaman terbaik selama di Belgia! Namanya saja "Suka Duka Jalan Di Negeri Keju dan Cokelat", hehehehe.

Ada satu hal sangat menarik ketika saya beserta rombongan saya di negeri terkenal akan cokelatnya. Lebih tepatnya, pengalaman ini didapati saat berjalan-jalan ditemani seorang saudara dari teman kedua orangtua saya yang sudah lama tinggal di Brussels. Namanya Mbak Ita.

Kami berempat mengunjungi sebuah tempat wisata bernama Atomium. Di sana, kita bisa melihat pemandangan kota, dan terlebih penting lagi kita bisa mengenal sebuah ikon terkenal dari Belgia kepada seluruh dunia. Sayangnya, kami tidak bisa masuk sampai bagian atas karena kami datang saat mendekati liburan sekolah mereka. 

Selain ke Atomium, kami juga mengunjungi Taman Kunstberg (Mont des Arts). Taman tersebut adalah salah satu taman yang dimiliki Brussels dan kami sangat menikmati jalan-jalan di sekitar taman. 


 

                                                           area favorit saya di Taman Kunstberg

 

Memang menyenangkan bisa pergi ke sana kemari selama di Brussels. Namun, ada yang lebih menarik bagi saya diri sendiri: Mendengarkan cerita Mbak Ita tentang kehidupannya di Belgia.


 

Ada cerita suka berkaitan dengan kehidupannya bersama keluarganya. Ada juga cerita di mana beliau harus jauh dari keluarga dan tak bisa dengan mudah pulang ke Indonesia karena alasan kesehatan. 

Cerita-cerita dari beliau tak saya ingat pasti kata demi kata nya, tetapi mendengar keseluruhan cerita tersebut membuat saya berpikir sejenak. Ternyata, ada kalanya kita mengorbankan kenyamanan supaya kita bisa mendapatkan kehidupan lebih baik. 

Sekalipun "kenyamanan" yang dimaksud adalah berada di dekat keluarga sendiri. Bukan karena kita membenci keluarga kita sendiri. Namun, kita memberi diri kita sendiri sebuah waktu untuk bertahan hidup dan mandiri. 

Meski begitu, saya pribadi tak kuat berjauh-jauhan dengan keluarga saya sendiri dalam rentang waktu lama. Apalagi bila saya harus tinggal jauh dari keluarga inti saya. 

Kalaupun saya akhirnya memutuskan untuk mengambil S2 di sebuah negara di Eropa, saya memutuskan untuk pulang lagi ke Indonesia begitu waktu pembelajarannya berakhir.


Bagi pembaca blog ini, adakah kalian pernah terbesit untuk memutuskan hidup jauh dari keluarga dan menetap di sebuah kota/negeri? Apa yang memutuskan kalian untuk mengambil langkah ini? 

Silakan cerita di kolom komentar.

Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk membaca post ini. Sampai bertemu di postingan blog berikutnya!

Komentar

Postingan Populer