Pesta Dansa Disko (Cerpen)

[Setelah membaca tulisan ini sampai akhir, silakan beri saran atau komentar tentang cerpen ini di kolom komentar. Saran dan kritikan kalian sangat membantu saya dalam menyempurnakan cerpen ini. Terima kasih!]

Lagu “Hip Hap Hop” dari Spargo* lagi-lagi membangunkan Sitta pada pukul setengah tujuh pagi. Dia sudah tahu kehidupannya sudah dimulai. Menyapu dan mengepel lantai, pergi ke pasar untuk membeli bahan lauk pauk hari ini, sarapan bersama ayahnya, dan mengecek apakah terjemahan yang dibuatnya ada revisi dari klien atau tidak kalau dia tidak ada jadwal kuliah.

Sebenarnya Sitta tak masalah akan kegiatan sehari-harinya, namun akhir-akhir ini dia menyadari kehidupannya terasa konstan. Tak berubah dan begitu-begitu saja. 

“Huh, kayaknya hidup gue membosankan, ya!”

Kalimat ini selalu muncul di pikiran Sitta. Dia ingin melakukan sesuatu tak biasa dan larut di dalam kegiatan tersebut. Seperti mendatangi sebuah pesta bertemakan disko tahun 80’an. 

“Eh, apa ini?” Kedua mata Sitta tiba-tiba terpaku dengan sebuah postingan di sebuah akun Instagram kursus Bahasa Belanda. Postingan itu seperti memanggil dan mengajak dirinya untuk mengikuti kelas dari kursus tersebut. 

“Hmm, gue daftarin diri gak, ya?”

Sitta akhirnya menunda untuk mendaftar di kursus itu. Dia berpikir kalau dia baru akan daftar kalau dia melihat iklan itu sekali lagi. Hari tersebut datang saat dia dan seorang teman sedang mencari referensi untuk skripsi. Kedua matanya tak sengaja melihat brosur berisi sama dengan postingan yang dilihatnya. 

Setelah membaca seksama informasi brosur kalau ada kursus bagi pemula setiap hari Senin dan Kamis pukul 6 sore sampai sembilan malam, imajinasi Sitta membawanya ke sebuah lorong gelap. Begitu dia melewati lorong dan membuka sebuah pintu, dia melihat ada sebuah pesta dansa disko memutar lagu dari Michael Jackson berjudul “Don’t Stop ‘Til You Get Enough”. Orang-orang bergembira dan sangat menikmati alunan musik dengan gerakan dansa mereka. Begitupun juga Sitta. Imajinasi Sitta berhenti saat bus Transjakarta sedang berhenti di halte Masjid Agung. 

Dia memutuskan untuk cepat-cepat sampai rumah dan mendaftarkan diri ke kursus tersebut.

***

Hari pertama kursus Bahasa Belanda adalah hari ini. Sitta sudah membawa satu tas punggung berisi satu buku pelajaran, satu buku tulis, dan satu kotak pensil. Botol minum bergambar Snoopy juga ikut dia bawa. Dia benar-benar tak sabar ingin mengikuti kursus hari ini. Sampai-sampai, dia berangkat dari rumah pukul setengah lima sore, padahal dia masih bisa berangkat dari rumahnya pukul setengah enam sore menuju tempat kursus.

Sitta sampai di tempat kursus pukul lima sore. Tak banyak orang berlalu-lalang di sekitar tempat kursus. Ada yang datang seorang diri dan ada yang berjalan dengan teman-temannya sambil bercanda. 

“Wah! Yang mana ya yang juga mulai kursus hari ini?”

Sitta terus bertanya pada dirinya sendiri sembari mengamati orang-orang yang datang ke tempat kursus. 

“Permisi!” 

Suara seseorang yang sangat jelas buat Sitta terkejut. Kepalanya menoleh ke sumber suara. Orang tersebut memiliki rambut ikal. Raut wajah orang di belakang Sitta itu mencoba untuk ramah kepada Sitta.

“Aku boleh duduk sini gak?”

“Iya, boleh, “ Sitta mengangkat tas punggung dan memindahkannya ke atas pahanya. Perempuan tadi duduk di sebelah Sitta. 

“Oh iya, kenalin, aku Nata.” Tangan kanan orang di sebelah Sitta terjulur ke depan. Sitta menyalami tangan lawan bicaranya.

“Nama aku Sitta. Kamu ikut les di sini nanti?”

“Iya nih! Nanti jam enam sore.”

“Wah!” Sitta tergugah mendengar jawaban Nata. “Sama dong!”

Dari sana kedua orang ini saling berbincang sampai menjelang enam sore. Mereka berdua sama-sama jalan ke dalam tempat kursus. Kedua mata mereka mencari di mana letak kelas mereka. Ternyata ada empat orang juga terlihat mencari kelas mereka.

“Hai,” sapa Sitta. “Kalian juga lagi cari kelas ya?”

Salah satu lelaki muda menjawab pertanyaan Sitta, “Iya, nih. Katanya ruang kelas ada di deket dapur.”

“Oh, ini kelasnya, temen-temen!” Nata menunjuk sebuah pintu putih dengan angka 10. Semua orang yang tadi mencari kelas seketika sama-sama berkata, “Oh….”. Keenam orang ini masuk ke dalam kelas. Mereka berenam langsung berkenalan satu sama lain. 

“Nama gue Arnold…,”

 “Aku Dikta….”

“Perkenalkan, saya Wina…,”

“Gue Ola…,”

Ketika mereka berenam selesai berkenalan, ada seorang perempuan masuk ke dalam kelas. Beliau menyapa enam orang yang duduk di kursi belajar. “Halo, semuanya! Sebentar lagi saya mulai ya kelasnya. Kita masih tunggu empat orang lagi.”

Sesaat murid kelas sudah lengkap. Sang guru mulai memperkenalkan diri, “Perkenalkan, nama saya Sandi. Kalian boleh panggil saya Mevrouw** Sandi! Sekarang, giliran kalian memperkenalkan diri. Perkenalannya dimulai dari nama, tempat tinggal, dan saat ini apakah kalian sedang kuliah atau sudah bekerja.”

Tangan kanan guru itu menulis sebuah susunan kalimat, lalu berkata kalau yang ditulisnya adalah cara untuk memperkenalkan diri dalam Bahasa Belanda. Tidak lupa ia mencontohkannya. Satu demi satu murid berusaha untuk menggunakan susunan kalimat. Ada yang memperkenalkan diri dengan lancar, ada juga yang terbata-bata. Meskipun begitu, semua tampak nyaman untuk mengenal satu sama lain. Sesekali ada tawa muncul karena melihat tingkah jenaka dari Arnold. Dia berceletuk kepada seorang murid yang suaranya sangat kecil ketika dia sedang memperkenalkan diri.

“Kak, tolong suaranya kencengin sedikit, kami gak kedengeran!” ucap lelaki itu sembari mengarahkan kepalanya ke kanan. Murid itu ikut pun tertawa. 

Selama Sitta memperhatikan semua orang yang berada di ruangan ini, dia kagum akan latar belakang satu demi satu teman satu kursusnya dan suasana di kelasnya saat ini. Pikirannya terus melantunkan alunan musik disko. Hatinya tak bisa berhenti merasa bahagia. Dia tahu kalau dia sudah menemukan “pesta disko” yang dia cari-cari.

***

Semenjak Sitta mengikuti kursus Bahasa Belanda di setiap hari Senin dan Kamis, dia mulai menikmati hari-harinya. Dia sangat tak sabar bertemu dengan teman-teman satu kursusnya. Setiap kali dia berada di dalam kelas, dia bisa melepas rasa penat di pikirannya. Belajar bersama guru dan teman-temannya yang sangat senang berbicara kepadanya. Terkadang, Sitta dan teman-temannya pergi ke sebuah tempat makan tak jauh dari tempat kursus. Selain itu, dia tahu beberapa lagu bertemakan disko tahun 80’an dari dua temannya bernama Febi dan Richie. 

Meski begitu, ada satu hal mengganjal Sitta. Entah datangnya dari mana, perempuan ini tiba-tiba memikirkan apakah yang dirasakannya sudah benar atau salah. Perasaan bahagia karena berinteraksi dengan orang lain. Dia takut teman-temannya malah tak nyaman berteman dengannya, atau sebenarnya perasaannya hanya sebuah perasaan sesaat. Akhir-akhir ini, dia memilih untuk duduk di sebuah kursi taman tak jauh dari tempat kursus sebelum masuk ke kelas. 

“Sitta!” Arnold menyapa Sitta yang tak sadar akan keberadaannya. 

“Kenapa, nold?”

“Yuk masuk! Gue males masuk sendirian!”

Mau tak mau, Sitta mengikuti temannya. Dia memilih duduk di sebelah Nata. Sementara itu, dua murid bernama Bintang dan Celine duduk di sebelah kanan Sitta. Kelas hari Senin ini berlangsung seperti biasa. Mevrouw Sandi mengajar tentang kata sandang “de/het”. Saat Sitta mencatat tulisan gurunya di buku tulis, dia merasakan lambungnya perih dan baru ingat kalau sore ini dia belum makan. Dia berusaha agar teman-temannya tak tahu kalau dia sedang kesakitan. 

“Oke, kita istirahat dulu ya,” kata sang guru kelas. “Tiga puluh menit lagi kita mulai lagi.”

 “Sitta, beli nasi goreng gila, yuk!” ujar Nata.

“Gue ikutan!” timpal Celine.

“Hmm, gue enggak dulu, deh,” Sitta buru-buru menolak ajakkan Nata. “Gue lagi gak bawa duit.”

“Udah, gue bayarin!” Celine menarik tangan Sitta. Nata mengikuti kedua temannya berjalan ke pedagang kaki lima nasi goreng gila. Setidaknya ada lima orang sedang menyantap sepiring nasi goreng dicampur dengan olahan daging sosis dan telur. Celine, Nata, dan Sitta makan di tempat. Nata dan Celine menunggu pesanan mereka sambil mengobrol, sementara Sitta hanya mendengarkan dua temannya berbincang. Perlahan-lahan, dia merasakan keraguannya terkikis. Dia menyadari kalau teman-temannya tak masalah akan dirinya. Apa yang dia pikirkan tak sesuai dengan kenyataannya.

“Gue berada di “pesta” yang tepat!” Kata Sitta dalam hati untuk menutup keraguannya. 

Menjelang bagian akhir kelas hari ini, sang guru kelas berkata kalau dua minggu lagi akan ada ulangan kecil. Tidak lama kemudian, satu demi satu murid meninggalkan kelas. Sitta sengaja keluar terakhir, lalu berkata seorang pintu sebelum benar-benar pergi, "Sampai bertemu di pesta disko di minggu depan! Aku ingin berdansa lagi!" 

 

*Sebuah kelompok musik dari Belanda beraliran musik disco, funk, dan pop.

** Sebutan dalam Bahasa Belanda untuk seorang perempuan lebih tua atau yang sudah menikah. Penggunaan kata ini sebetulnya digunakan bersama nama keluarga (Misalnya: Mevrouw Rosemeijer). Namun, pada cerita ini sang guru menggunakannya agar muridnya tak bingung untuk memanggilnya.

Komentar

Postingan Populer