Dansa Terakhir (Cerpen)



Kalau saja bukan karena merayakan ulang tahun seorang guru tari di studio tari peninggalan Ibu, sudah aku tolak ajakan pergi ke pub restaurant[1] dan makan malam di sana. Untung saja tempatnya tidak temaram. Suara bising dan keramaian adalah dua situasi sangat sangat sangat aku hindari!

          Jam 20:54 tertulis di telepon pintarku. Semua guru tari yang ikut jamuan makan malam bergegas keluar dari ruangan.

          “Cata!” Suara itu membuatku menoleh ke kanan dan melihat sahabat lelakiku yang memakai kaus sepakbola berwarna merah dan bertuliskan “Snapdragon”. “Lu di sini juga?”

          “Nico!” sapaku sembari berjalan ke depan Nicolas. “Gue mau balik tapi.”

          “Oh, oke. Oh ya, kenalin nih!”

          Lelaki berambut pendek dan memakai kemeja lengan pendek berwarna putih beserta celana kain warna hitam dan sepatu Oxford style[2] berwarna hitam mulai arahkan tangan kanannya ke hadapanku dan menyebut namanya.

          “Andy.”

          “Catalina.”

          Kami berjabat tangan.

          “Kita duluan ya, Cat!” Nicolas dan Andy mulai berjalan ke meja mereka.

          “Oke, gue balik dulu!”

          Di luar restorann, taksi online yang dipesan semua rekan kerjaku baru saja sampai.

          “Wuih, si Cata, katanya gak punya pacar, ternyata cowoknya dua!”

          Candaan dari seorang guru tari itu aku tanggapi serius.

          Namun, harus aku akui, Andy tampan. Sepertinya dia bukan orang Indonesia.

          Ah, peduli amat!

          Aku hanya ingin sampai rumah!

***

“Halo, Cata!”

          Tumben sekali Nicolas telpon di jam 5 pagi. Ada apa nih?” Tanyaku dalam batin.

          “Iya, ada apa?”

          “Gue mau minta tolong.”

          Aku menerka-nerka apa yang terjadi di seberang sana.

          “Lu mabok kah?”

          Nicolas sedikit tertawa, “Enggak, kok. Mulai teler sih iya.”

          “Yeh! Tidur lu! Untung hari ini Sabtu.”

          “Sip! Eh, tapi gue beneran mau minta tolong.”

          “Minta tolong apa? Pesenin taksi?”

          “Ih, itu gue bisa sendiri. Si Andy, tuh.”

          “Hah, kenapa dia?”

          “Dia minta tolong diajarin ballroom dance[3].”

          Aku sempat menjauhkan telepon pintarku dari telinga, lalu melihat ke arah jendela dan melihat ke jam dinding. Ini orang kenapa deh?

          “Mending lu tidur deh!” saranku ke Nicolas untuk akhiri telepon. “Kalo lu udah sadar, coba telpon gue lagi.”

          “Oke, Cata! I’ll talk to you later!

          “Iye, sana!”

          Telepon pun berakhir. Aku mencerna kata demi kata dari sahabatku.

          Andy.

          Minta tolong.

          Diajarin.

          Ballroom dance.

          Lebih baik aku pergi lari pagi saja, dari pada kepalaku semakin pusing!

***

Nicolas menelponku kembali pukul 12.00. Rasa penasaranku muncul kembali.

          “Lu tadi pagi ngomong apa sih, Nico? Kok lu bisa teler?”

          “Iya, abis makan malem sama orang kantor, kita karokean dulu selama satu jam, terus lanjut jalan-jalan subuh keliling Jakarta. Si Andy pengen keliling kota ini.”

          Penjelasan singkat itu buat kepalaku geleng-geleng.

          “Tenang, gue telernya bukan karena mabok, tapi karena gue mulai ngantuk. Gue baru sampe rumah jam 5 kurang 10.”

          “Makanya, kalo ngantuk tuh tidur!”

          “Ini gue udah tidur dan baru bangun,” Nicolas berdeham sejenak. “Oh iya, tadi pagi gue bilang apa ya?”

          Tanganku ingin menjitak jidat sahabatku yang satu ini.

          “Temen kantor lu pengen belajar ballroom dance sama gue.”

          “Oh iya! Andy!”

          “Lu cerita ya ke dia kalo gue ngajar tarian itu?”

          “Ya, iyalah!”

          “Emang dia gak risihan orangnya?”

          “Enggak, kok. Buktinya dia mau.”

          Napasku terhela sangat panjang. Entah aku ingin merasa kesal atau tidak.

          “Tapi kalo guenya yang gak mau, gimana?”

          “Yah,” Nicolas terdengar kaget. “Jangan dong!”

          “Yeh, emang kenapa? Lagi, lu juga idein yang aneh-aneh ke dia!”

          Aku semakin kesal mendengar tawa nan canggung dari lawan bicaraku.

          “Gini aja deh, gue bakal jemput kalian berdua di studio lu dan ajak kalian makan malem bareng. Tiap malem!”

          “Duit lu gak abis emang?”

          “Masalah duit, aman!” kata Nicolas dengan mantap. “Jadi gimana, mau ya?”

          Benar-benar tak bisa aku pahami sahabatku ini. Apa hubungannya dengan kerjaan dia sama belajar ballroom dance?

          Tapi, ya sudah lah!

          “Oke, gue mau ajarin Andy. Inget ye, tiap malem!”

          Terdengar jelas sekali Nicolas menepuk kedua tangannya.

          Yay! Thank you so much, gurl!”

          “Ih, gak jelas lu! Bilang sama Andy, mulai Senin besok, dateng aja di jam sore atau malem. Gue gak ada kelas.”

          Percakapan telepon sudah usai, tetapi aku masih memikirkan apakah menyanggupi permintaan aneh nan ajaib dari Nicolas.

          Semoga saja aku benar-benar sanggup.

***

Sosok Andy terlihat masuk ke studio tari di jam 18.00. Tampaknya pesona lelaki berwajah oriental dan rambut pendek seleher ini seperti magnet. Tak ada satu pandangan dari banyak murid dan guru tari yang lepas dari menatap lelaki tersebut.

          Termasuk aku.

          “Ada apa sih di sini? Gak pernah lihat laki cakep ya?” Suara Nicolas seketika membuyarkan suasana.

          “Eh, apaan, Nico?”

          “Ya ilah, lu juga,” Nicolas menggelengkan kepala.

          “Hello again, Catalina.”

          Andy dan aku berjabat tangan kembali.

          “Nih orang dari Singapura.” Nicolas lanjut memperkenalkan Andy kepadaku. “Kebetulan dia lagi ada kerjaan di Jakarta selama empat bulan, tapi dia bakal bolak-balik setiap akhir bulan.”

          “Thanks again for letting me learn the dance, I really need it.”

          “Sure, no problem!” jawabku singkat dan seramah mungkin.

          “Oh yeah, I also want to practice my Indonesian, jadi....kapan kita mulai?”

          Aku melonggo sejadi-jadinya. Dia bisa ngomong Bahasa Indonesia?

          “Kita bisa mulai sekarang.”

          “Sip! Kalo gitu gue tinggal dulu ya! Gue ngacir ke kafe sebelah studio lu,” aku melihat Nicolas berjalan keluar dari kelas, meninggalkan aku dan Andy.

          “Kita mulai dari mana?”

          Aku tersadar saat Andy bertanya demikian. “Oh iya, sebelumnya, apa yang kamu tahu dari ballroom dance?”

          “Saya tahu dance ini termasuk susah.”

          Pandangan mataku terus memperhatikan lelaki di depanku, apalagi jawabannya buat aku sedikit tersenyum.

          “Memang ada susahnya, tapi tarian ini termasuk tarian yang anggun untuk dilakukan. Apakah kamu pernah mencobanya, Andy?”

          “Belum pernah.”

          “Kalau begitu,” aku mulai memposisikan diriku sebagai pasangan dansa lelaki yang memakai kaus polo berwarna putih ini. “Pertama, ikuti posisi tangan saya, ya.”

          Andy memosisikan kedua tangannya ketika aku meminta tangan kirinya menyentuh punggung dan tangan kanannya menggapit tangan kananku. Sentuhan tangannya seperti memiliki aliran listrik bertenaga rendah.

          Next, ikuti langkah kaki saya.”

          Aku melangkahkan kaki kiri ke depan, lalu berpindah ke kaki kanan ke samping, dan menyatukan kedua kakiku di satu titik. Pasangan dansaku tentu saja kesulitan mengikuti langkahku. Hebatnya, dia tak menginjak kedua kakiku.

          “Are you hurt, Catalina?”

          Pertanyaan itu sedikit membuyarkan konsentrasiku. Dia terlihat ketakutan. Mungkin dia takut kakinya menyentak kakikku.

          “Eh, no, saya tak apa-apa.”

          Ekspresi wajah Andy terlihat lega.

          “Sepertinya saya perlu latihan steps, ya?”

          “Tapi kamu bagus sekali untuk pemula,” ucapku untuk tenangkan Andy. “Baiklah, kita latihan langkah dulu saja.”

          Anjuran macam apa itu, Cata? Sekarang kamu terasa tersetrum akibat bersentuhan dengan Andy dan menatap kedua mata lelaki di depanmu. Luar biasa! Tidak ada yang bisa membantumu kalau-kalau kamu malah jatuh hati!”

          Ya, batinku barusan beri peringatan sekaligus memakiku.

***

“Nico, gue bisa sesek napas nih gara-gara lu!”

          Sahabat lelakiku yang saat ini duduk di depanku hampir saja tersedak mie ayam yang sedang disantapnya.

          “Lho, kenapa?”

          “Udah tiga kali nih gue ngelatih Andy ballroom dance.”

          “Terus, terus?” Nicolas menyeka mulutnya dengan tisu. “Gimana dia?”

          “Ya, dia gak ada masalah, tapi...”

          “Tapi nape?”

          Aku sendiri heran saat aku menyadari aku terdiam. Pandangan mata Nicolas menerka-nerka apa yang terjadi.

          “Lu...”

          “..naksir dia?” tukasku cepat-cepat. “Enggak, kok!”

          Nicolas langsung alihkan pandangan matanya, “Okelah kalo gitu!”

          “Tapi, ya, gue masih gak ngerti lho kenapa dia mau belajar tarian itu di sela-sela kerjaannya. Emangnya kantor kalian gak banyak kerjaan?”

          “Banyak, sih. Gue juga gak ngerti kenapa. Katanya, dia...,.”

          Tiba-tiba Nicolas menerima telepon.

          “Cata, gue duluan ya! Bos gue nyariin gue. Untung Andy stand by di kantor!”

          Langkah kaki sahabat nan unik yang satu ini tergesa-gesa. Pasti dia lagi penat sama kerjaannya, sampai rela mengajakku ketemuan di resto dimsum di Blok M ini.

          Tetapi, dia mau ngomong apa ya?

***

Rutinitasku baru-baru ini: Habis mengajar dua kelas dari jam 1 siang dan setengah 4 sore, aku mengajari Andy di pukul setengah 7. Nicolas menemui Andy dan aku di pukul 8 malam, lalu kami bertiga makan malam di banyak warung kaki lima. Entah kami makan di warung nasi uduk, sate, atau pun sop kaki kambing.

          Namun, rutinitas baru ini tak dilakukan setiap hari. Ada kalanya Andy dan Nicolas mengerjakan sebuah proyek analisa keuangan—aku juga tak ingat apa istilah tepatnya. Di akhir bulan, Andy kembali ke Singapura selama satu minggu.

          Ini yang aku tak sukai.

          Andy jauh dariku.

          Padahal, kemarin aku tak ada rasa suka kepada lelaki itu.

          Baru kali ini aku merasakan jiwaku terasa tak tahu rasanya hidup, seperti sebuah tanaman yang jarang mendapat air dan sinar matahari. 

          Bisa jadi, aku sudah jatuh ke dalam perangkap bernama ‘cinta’.

          Coba aku nilai diriku sendiri di malam ini.

          Andy mengabari aku kalau dia sudah ada di Jakarta dan akan menemuiku pukul 7 malam.

          Aku menanti dia sembari menyantap makan malam Singaporean fried rice[4].

          Yes, you got me.

          Bahkan aku sendiri pun benar-benar semakin tak mengerti dengan diriku sendiri.

          Kok bisa aku merindui lelaki yang jadi muridku baru-baru ini?

***

Makan malamku sudah habis dan Andy tiba di studio. Aku melihat lelaki itu memakai T-shirt dan celana hitam mengetuk pintu kelas dan membuka pintu pelan-pelan.

          “Hai, Andy!” Aku mencoba tenangkan diri dengan merapikan kotak makan plastik yang berhamburan.

          “Apakah saya mengganggumu?” Andy membungkukkan badannya.

          “Tidak. Saya baru saja selesai makan malam. Come in!

          Lelaki itu masuk dan menutup pintu.

          Mengapa aku menenenangkan diri? Karena aku menyadari hatiku mulai berdegub dan pandangan mataku tak bisa lepas dari sosok ini.

          Aduh, bagaimana ini?

          Saat Andy dan aku mulai berlatih bersama, deguban hatiku bisa mereda. Menghitung langkah kaki di setiap gerakkan menarinya juga membantu supaya aku bisa fokus melatih murid dansaku.

          Kesialan di malam ini terjadi saat aku harus bertemu di depan tubuh Andy.

          Aliran listrik berdaya rendah sepert berlari menuju jantungku.

          Itu terjadi saat aku menatap kedua mataku dan tangan Andy menggenggam erat tanganku.

          Petaka apa lagi ini?” tanyaku sebelum aku mundur satu langkah dari posisiku sekarang.

          “Oh, sorry,” Andy juga ikut mundur satu langkah.

          “It’s alright, Andy” kataku sembari merapikan bajuku yang sebenarnya tak ada apa-apa. “Kita istirahat lima menit dulu, ya. Saya mau ke toilet dulu.”

          Andy anggukkan kepalanya dan duduk bersila di lantai, sementara aku segera keluar dari kelas. Aku berbohong kepadanya. Sebetulnya aku tak ke toilet. Aku pergi keluar studio untuk menarik napas.

          Astaga, aku sudah jatuh cinta terlalu dalam kepada Andy!

***

Sudah tidak terasa dua bulan aku melatih Andy menari ballrooom dance. Dia sudah sangat lihai melakukan tarian itu. Kami bisa selesai selama satu jam. Kami tak lagi belajar selama satu setengah jam.

          Meski begitu, ada dua pertanyaan menetap di pikiran:

          Mengapa Andy mau belajar ballroom dance?

(Dia tak pernah menyebutkan alasannya, meski aku pancing dirinya di beberapa kali aku-dia-Nicolas makan malam bersama.)

 

          Mengapa dia selalu menghindar setiap kali dia dan aku tak sengaja bersentuhan di setiap latihan?

Sepertinya aku akan mendapat jawaban untuk dua pertanyaan di atas ketika Nicolas tiba-tiba mengajakku makan malam di sebuah restoran yang ada di lantai teratas. Dia ingin mencoba makanan di restoran itu, tetapi dia tak mau ke sana seorang diri dan kebetulan dia mendapat bonus dari kantornya.

   “Lu gak ada pacar malah ajaknya gue, wkwkwk.”

   Itulah balasan pesan whatsapp untuk sahabatku.

   “Tenang, gak ada Andy kok. Dia lagi pulang ke Singapura.”

   Hmm, apakah dia bisa membaca pikiranku dari jauh kalau saat ini aku memikirkan rekan kerjanya itu?

“Ya udah, Cata. Tiga puluh menit lagi gue ke rumah lu, ya.”

“Sip!”

Nicolas memang datang ke rumah tepat waktu. Aku masuk ke mobilnya setelah berpamitan dengan Mbak Risa.

“Selamat ngedate sama Mas Nico!” Aku merasa malu, sementara Nicolas tertawa mendengar godaan asisten rumah tanggaku.

***

Harus diakui, restoran yang ingin dikunjungi sahabatku bukan main bagusnya. Tempatnya terasa nyaman dan ada beragam masakan Asia. Paduan warna cokelat tua-krem-putih di restoran ini senada dengan maxi dress [5] warna putih gading yang sedang aku pakai.

          Nicolas memilih sebuah meja makan dekat jendela.

          Kalau tidak unik, dia bukanlah sahabatku.

          Entah pikirannya memikirkan kita akan disangka sedang kencan oleh pelayan restoran atau tidak.

          Hampir semua masakan sudah aku coba, tetapi aku paling suka sajian masakan sushi, sampai-sampai aku sering bolak-balik ke area makanan dari Jepang tersebut.

          “Gile, neng!” Nicolas berdecak kagum melihat aku baru datang ke meja makan. “Lu laper apa hobi?”

          “Hehehe, enak sih!”

“Ya udah. Gantian gue mau ambil juga.”

Nicolas dan aku menyantap pelan-pelan sushi yang ada di piring kami masing-masing.

“Eh iya, Cata! Gue denger dari Andy katanya lu bilang dia udah semakin jago ya sama...ball...ball,”

“Ballroom dance.”

“Iya, itu maksudnya!” Lelaki di seberangku anggukkan kepalanya. “Berarti dia udah mantep tuh pas dia first dance sama tunangannya di nikahannya mereka nanti.”

Kalimat barusan dari Nicolas seperti mematikan seluruh sistem di tubuhku.

Aku hanya menatap ke sahabatku.

“Lu belom tahu dia tuh udah punya tunangan?”

Kepalaku menggeleng.

“Wah, dia emang belom ngasih tahu ke lu ya.”

Nicolas menaruh sumpit di sebelah piringnya.

“Sebenernya, alasan kenapa dia pengen belajar ballroom dance sama lu itu murni karena dia pengen sempetin waktu aja. Dia tuh mau nikah dua bulan lagi.”

Irisan di hati semakin muncul.

“Berarti lu belum tahu ya tunangannya kayak gimana. Cantek banget!”

Untung saja lelaki yang memakai kemeja lengan pendek berwarna cokelat muda ini tak melihat kepalaku tertunduk, jadi dia tak melihat betapa pilunya diriku mendengar penjelasan singkatnya ketika dia menunjukkan foto sosok tunangannya.

Seorang perempuan berwajah oriental, rambutnya berwarna hitam, dan senyumannya terlihat seperti orang yang ramah. Di foto itu, perempuan itu memakai gaun cocktail dress[6] berwarna putih salju.

Sekarang, semuanya terasa masuk akal.

Alasan mengapa Andy sangat menjaga jarak denganku dan berniat untuk mempelajari tarian nan anggun ini.

Pantas saja aku merasa sulit mengakrabkan diriku kepada lelaki itu.

Aku sudah kalah.

“Nico, gue ke toilet dulu, ya.” cepat-cepat aku berdiri dan berjalan ke toilet.

Di sana, aku menangis sejadi-jadinya.

Memang sekarang aku tak perlu meraba-raba alasannya lagi. Apalagi, kebetulan empat hari lagi adalah kelas terakhir untukku mengajari Andy.

Namun, apakah perpisahan harus sesakit dan tak bersahabat seperti ini?

Adakah ‘jatuh cinta di waktu yang salah’ benar adanya, setidaknya untukku?

***

“Andy, hari ini kelas terakhir kita,” kataku berusaha untuk bersahabat dengannya empat hari setelah dia kembali ke Singapura. “Congratulations, you made into the final step of the lesson!”

          Andy tersenyum dan bertepuk tangan kepadaku.

          “Karena hari ini adalah hari spesial, bagaimana kita tutup kelas ini dengan berlatih sekali lagi.”

          “That’s sounds great! Saya memang ingin berlatih bersama kamu di sesi terakhir ini. Apakah kamu pakai lagu pengiring?

          “Tentu saja!” aku mengambil telepon pintarku di dekat speaker berwarna hitam. “Tenang, lagunya hanya satu.”

          “Lagunya ada dua juga tak apa,” Andy berkata seperti itu dengan selipkan tawa.

          “Andai aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi, aku pasti menganggap kamu sedang bercanda,” balasku dalam hati ketika melihat lelaki itu tersenyum.

          Andy mengikuti posisiku dan mulai memimpinku untuk berdansa bersamanya.

          Kedua mataku terpejam saat aku tak perlu menemui kedua mata Andy,

          Imajinasiku mulai membayangkan betapa akrabnya kami sebagai sepasang kekasih. Dia menuntun langkahnya saat menari dan aku bisa mengikutinya sesuai dengan irama lagu. Saat kedua bola mata dia dan aku bertemu, kami saling menatap seolah tak mau jauh dari masing-masing.

          Tetapi imajinasiku harus aku hentikan begitu lagu sampai di bagian reff.

          Angan-angan cintaku harus lenyap, di malam ini juga.

          Apalagi saat lagu berada di iringan irama tanpa bait.

          Aku harus melupakan semua kenangan yang sudah terjadi selama Andy dan aku berlatih bersama. Seperti kenangan di mana sesekali dia atau aku bercanda kepada Nicolas setiap kali makan malam bersama, lalu respon lelaki tersebut hanya berkata, “Oh, gitu ya kalian,” sembari juga ikut tertawa.

          “Selamat tinggal, Andy! Mari tidak bertemu lagi!”

          Batinku kembali berkata dengan lirih begitu lagu sampai di bagian akhir.

          Posisi tubuhnya dan tubuhku ada di titik yang sama.

          Tidak. Aku tak boleh lagi jatuh dan menyerah kepada sosok di depanku.

          “Thank you for letting me teaching you ballroom dance. I hope...you can ask someone to dance with you. Now.., is it okay if I leave you alone?”

          Aku tak mau melihat bagaimana reaksi Andy. Pikiranku hanya ingin tinggalkan dia. Aku cepat-cepat membawa telepon pintar dan tas, lalu meninggalkan lelaki itu seorang diri.

          “Eh, eh, Cata,” aku benar-benar lupa Nicolas menunggui Andy di studio tari kalau dia tidak mencegat langkahku. “Andy ada di mana?”

          Aku menatapnya. Hanya melihat wajah sahabatku.

          Sahabatku seketika terdiam.

          Sepertinya dia sudah mengerti.

          Dia membiarkanku menangis sebentar di sapu tangan berwarna hitam-putih.

          “Lu mau gue anterin?” kata Nicolas dengan nada bicara yang sangat pelan. “Entar Andy gue suruh naik taksi aja.”

          “Gak usah, Nico. Makasih.”

          “Lu udah pesen taksi?”

          “Udah.”

          “Ya udah, gue temenin sampe taksi lu sampe.”

          Taksi yang aku pesan sampai di depan studio lima menit kemudian. Nicolas membuka pintu penumpang dan bilang ke supir taksi untuk bawa mobil dengan hati-hati, lalu menyapa Andy saat temannya keluar dari studio tari.

          Perjalanan menuju rumah terlewati dengan menangis tanpa suara karena meratapi kisah cintaku yang belum mulai tapi sudah berhenti di tengah jalan. Aku menyempatkan untuk menghapus banyak foto berisi aku-Nicolas-Andy dan memblokir akun Instagram lelaki dari Singapura itu.

          Aku tak tahu apakah aku sudah melakukan hal yang benar.

          Aku hanya tahu sudah waktunya aku hempas hal terindah yang pernah terjadi di dalam hidupku untuk selamanya.

***

Dua hari setelah pertemuan terakhirku dengan Andy, Nicolas datang mengunjungi rumahku di sore hari.  

          “Mas Nico,” kata Mbak Risa begitu dia melihat Nicolas berdiri di depan rumah. Aku bisa mendengar pembantu rumahku sedikit berbincang dengan sahabatku. Barangkali mereka khawatir melihat aku hanya duduk di ruang tv dan terus menyeka air mata.

          “Mbak Cata, ada mas Nico dateng,”

          Nicolas berdiri di belakang Mbak Risa dan menaruh satu bucket berisi ayam goreng. Tawa seketika muncul dari mulutku.

          Thank you, Nic. Tahu aja lu gue belom makan! Dikasih tahu sama Mbak Risa ya?”

          “Enak aja!” Nicolas berterima kasih ke Mbak Risa sebelum meninggalkan kami berdua. “ Gue tadi laper abis anterin Andy.”

          Nama itu kembali membekukan tubuhku.

          “Eh, sori, gue kelepasan nyebut dia,” ujar Nicolas begitu melihat ke arahku.

          “Enggak apa-apa. Apa kabar dia?”

          “Baik, kok. Tadi dia sempet tanya lu ada di mana, gue bilang aja lu lagi ada kelas.”

          “Terus dia bilang apa?” tanyaku sambil menyeka air mata dari kedua mataku.

          “Dia cuma nitip salam,” lelaki yang duduk di kursi tamu sebelah kanan mengambil satu potong ayam bagian dada dan menaruhnya di piringnya. “Eh, tapi jatohnya gue bohong ya ama dia. Kan lu lagi menghentikan sementara kegiatan kelas tari di studio tari lu.”

          Aku hanya bisa melempar senyum kepada sahabatku.

          Sore dan malam hariku terisi dengan menonton televisi bersama Nicolas dan Mbak Risa. Sesekali aku tertawa melihat tingkah dua orang yang menemani aku saat ini. Ada saja yang mereka ributkan. Contohnya, ketika asisten rumah tangga di rumah ini sedang asyik menonton sebuah sinetron dan Nicolas merasa haus.

          “Mbak Risa, bikinin teh manis anget, dong!”

          “Aduh, mas Nico! Entar dong! Lagi seru nih!”

          “Nanti Elsa nya keluar dari tv lho!”

          “Ih, males lihat dia!”

          “Makanya, tolong bikinin teh!”

          “Duh, iya, iya!”

          Tentu saja aku tertawa, lalu aku menyadari sesuatu.

          Rupanya aku sudah lupa bagaimana rasanya untuk bahagia.

          Ternyata aku hanya perlu bersama orang lain supaya aku tak lagi merasa sedih.

          Terima kasih sudah mengijinkan aku merasakan patah hati, ya Tuhan. Terima kasih sudah memberikan kesempatan langka seperti jatuh hati kepada Andy.

          Beri aku kekuatan, ya Tuhan, untuk bisa bangkit lagi.

          Dansa bersama seseorang yang buatku jatuh cinta seperti Andy memang sudah berakhir.

          Namun, aku mau teruskan hidup ini, sepanjang apapun.

 

 

 

[Halo, ini Nicolas.

Ini cukup kalian aja yang tahu. Gue baru aja melakukan hal nekat. Pas gue nemenin Catalina nonton tv sama Mbak Risa, gue bilang mau ke mobil bentar sebelum kembali masuk ke rumah sahabat gue. Gue emang ke mobil, tapi di sana gue nulis pesan di DM Instagram: “Andy, Catalina likes you.”.

Gue sebenernya gak berharap Andy baca pesan dari gue, tapi begitu gue beneran pamit pulang ke Catalina, gue lihat kata “Seen” di kolom chat nya Andy.

Artinya, dia baca, kan?]

 

4 Juni 2021



[1] Nama untuk sebuah restoran yang memiliki area bar.

[2] Tipe sepatu pria terbuat dari bahan kulit dan memiliki fitur closed-lacing system.

[3] Sebuah tarian yang dilakukan oleh dua orang dan menari bersama. Tarian ini fokus pada keanggunan dan kelancaran saat menari.

[4] Nasi goreng dengan bumbu kari, kecap asin, jahe, bawang putih, dan cabai.

[5] Sebuah gaun panjang dari bahu sampai mata kaki atau lantai.

[6] Sebuah gaun pendek dengan panjang selutut. Gaun ini digunakan di acara semi formal.

Komentar

Postingan Populer