Batu Bata dan Bunga: Kembali Dari Awal (Cerpen)

[Cerpen ini adalah bagian dari novel pertama saya "Batu Bata dan Bunga" yang akan terbit segera. Boleh banget kasih kritik maupun saran di komentar. Terima kasih!]



“Pak, pak, berhenti di sini aja,” Liliane mengikat rambutnya saat mobil taksi online yang dia tumpangi bersama kakaknya berhenti. Indra memberi uang sejumlah tarif perjalanan dari rumah menuju Stasiun Bogor

            Mereka berdua masing-masing menyeret satu koper kecil ke kereta KRL Bogor-Jakarta.

            “Li,” Kata Indra sembari mereka berjalan ke stasiun. “Entar di Jakarta cari tas buat backpacker yuk!”

            “Aneh juga sih kita bawa koper, kak.”

            Kereta KRL menuju Jakarta di siang hari kali ini tak ramai. Indra dan Liliane masih dapat tempat duduk yang mereka inginkan.

“Lu udah kabarin Derika kalo kita mau ke Jakarta, kan?”

Pertanyaan barusan seperti menyentak kepala Liliane. Dia baru ingat kalau dia belum menghubungi sahabatnya.

“Belom, kak!”

Raut wajah Indra menggambarkan dia tak heran dengan tingkah adiknya.

“Gue telpon dulu, ya! Untung lu ingetin, kak!”

Derika baru saja selesai mengepel unit apartemennya ketika dia mendengar suara ringtone. Nama “Liliane” dan nomor sahabatnya terpampang di layar.

“Halo, Li?”

“Ika, lu lagi sibuk gak?”

“Gue baru ngepel lantai abis masak. Ada apa, Li?”

Liliane memikirkan kata apa yang bisa dia katakan pada sahabatnya.

“Kita lagi mau ke Jakarta nih.”

Derika mengangkat alisnya, “Hah? Sama siapa lu ke sini?”

“Oh, sama kakak gue.”

“Oh…”

“...kita mau main ke tempat lu, ka.”

Liliane tidak mendengar satu suara pun dari lawan bicaranya.

“Eh, ya ya,” Derika mulai merespon ucapan sahabatnya. “Boleh aja! Kapan kalian dateng?”

“Ini sih gue udah di KRL.”

Lima kalimat barusan sedikit mengejutkan Derika.

“Lu di KRL…beneran?”

“Iya, beneran!”

Derika melihat ke satu pintu kamar tertutup dan sofa bed berwarna merah.

“Ini gue bisa makan siang dulu, kan?”

“Bisa, bisa.”

“Sip! Nanti gue kabarin lagi ya kalo gue udah jalan ke Stasiun Jakarta Kota.”

Liliane dan Derika sama-sama menutup telepon.

Derika menggelengkan kepala.

Dia sudah paham sahabatnya hanya lupa mengabarinya.

***

Derika sudah berkali-kali menyalakan mesin mobil, tetapi hanya ada suara mesin mobil tersendat. Dia memukul setir mobil dengan kedua tangannya.

            “Aduh!” Kedua tangan Derika terasa sangat sakit. “Kenapa harus mogok sih ini mobil?”

            Perempuan berambut pendek dan berkacamata ini melihat telepon genggamnya.

            “Ya ampun, udah jam tiga sore lagi!”

            Seketika ada telpon masuk. Nama “Liliane” tertulis di sana.

            “Halo, Ika. Lu lagi di jalan?”

            “Halo, Li,” Derika mengumpulkan keberanian untuk jujur ke sahabatnya. “Mobil gue mogok.”

            Liliane terdengar terkejut.

            “Tenang aja, Li! Gue pasti jemput lu!”

            “Iye, iye!” Liliane tertawa mendengar ucapan Derika. “Kita tetep ketemuan, lho! Kangen tahu!”

            “Sama!” Derika tak kalah senang mendengar ucapan Liliane” Sampe ketemu entar!”

Ketika Derika menutup teleponnya, seketika dia mendapat sebuah ide. Dia segera keluar dari mobil dan berjalan keluar dari apartemennya.

Panas matahari sore hari kali ini memang terasa menyakitkan bagi kulit Derika. Namun, dia tak mau ambil pusing. Sahabatnya akan datang mengunjunginya. Dia akan melakukan apapun, termasuk menunggu bus Transjakarta.

            Dia bahkan tak mengeluh, harus menunggu sekitar lima menit untuk masuk ke dalam bus.

“Permisi, pak,” katanya saat melihat seorang petugas di dalam bus.

Semua berjalan baik, sampai bus terjebak macet di Glodok.

Derika kembali memaki-maki dalam hati.

Hatinya semakin dibuat tak tenang ketika dia melihat jam di jam tangannya.

“Jangan-jangan Liliane udah mau sampe lagi.” pikir Derika.

Bus berjalan sangat pelan membuat perempuan memakai T-shirt berwarna biru dan celana jins ini semakin gundah, sampai-sampai dia tak mau melihat chat dari Liliane.

Akhirnya bus sampai di halte Stasiun Jakarta Kota. Derika cepat-cepat keluar dari bus. Di waktu bersamaan, Liliane dan Indra mengikuti para penumpang KRL keluar dari kereta.

Derika sedikit berlari saat masuk ke dalam stasiun kereta.

Liliane melihat sosok seseorang yang sedikit berlari ke arahnya.

“Ika!”

Orang tersebut melihat ke arah Liliane dan tersenyum.

“Li!”

Saat Derika menemui Liliane, mereka tak berhenti saling menyambut. Indra menyusul adiknya sambil membawa koper milik sang adik.

“Akhirnya kita ketemu juga, ya!” Kata Liliane.

“Untung aja lu main ke Jakarta, Li!” Derika melepaskan pelukkan dan melihat temannya yang memakai kaus berwarna putih, celana jins biru muda, dan sepatu lari berwarna ungu.

“Tumben nih kakak gue ngajakkin ke sini,” kata Liliane. “Keluar yuk!”

Derika dan Indra mengikuti Liliane.

“Kita ke tempat lu naik apa, ka?” tanya perempuan memakai kaus tim nasional Italia berwarna biru dan celana hitam.

            Bibir Derika meringis, membuat sahabatnya angkat alis kirinya.

            “Kita naik itu,” tangan telunjuk Derika menunjuk ke halte Transjakarta.

            Indra dan Liliane melihat satu bus berhenti di halte.

            “Gak apa, kan?”

            Liliane melihat ke arah halte, lalu cepat berpindah ke Derika.

            “Lu gak bohong kan, Ka?”

            Raut wajah Liliane seperti orang tak percaya.

“Gak, gue gak bohong, Li.”

“Udah, ke sana yuk,” Indra menyenggol Liliane dan mengajak sang adik berjalan ke halte.

Liliane melangkah ke halte dengan sangat pelan, sementara Indra dan Derika berada di belakang perempuan muda berusia dua puluh lima itu.

                                                                           ***

Di dalam bus, Liliane melihat jalan raya dan merasa tak sabar. 

            “Ini nih yang gue gak suka sama Jakarta,” Indra mendengar adiknya mengeluh. “Macetnya masih kayak gini!”

            “Sok-sok an banget lu.” Cibir Indra.”Kayak di Bogor gak kena macet aja lu, Li.”

            Derika tak berkata-kata.

            Indra melihat perempuan di belakangnya dan berbicara lewat tatapan matanya kalau kemacetan ini bukan salahnya. Saat Derika menatap mata Indra, dia mulai merasa tenang.

            “Mobil lu kenapa mesti mogok, sih?” keluh Liliane saat melihat temannya.

            “Yah, maaf deh, gue beneran lupa ngecek aki nya itu mobil.”

            “Udeh, ngeluh mulu lu, Li!” Indra membalikkan pundak adiknya ke arah depan. Liliane memajukan bibir dan memicingkan kedua matanya. Gerak-gerik kedua orang di depannya buat Derika tertawa.

***

Liliane, Derika, dan Indra sudah sampai di halte Transjakarta Ancol. Sepasang kakak-beradik ini tampak tak kerepotan menggeret koper mereka keluar dari bus.

            “Ka, dari sini ke apartemen lu deket gak?” Tanya Liliane saat dia dekatkan kopernya ke kaki kanannya.

            “Hmmm, jauh sayangnya.” Jawab Derika.

            “Berapa kilometer?”

            “Dari sini ke tempat gue 3 kilometer.”

            “Derika!” seru Liliane setelah dia menenggak air putih dari botol minumnya.”Hobi banget lu nyuruh kita jalan kaki!”

            “Dan lu dari tadi hobi banget ngeluh,” Timpal Indra sembari melihat ke arah Liliane berdiri. “Ayo dah kita jalan.”

            Liliane menuruti perintah kakaknya. Dia berjalan terlebih dulu, diikuti Indra dan Derika.

            Sepanjang jalan, Liliane takjub dengan apa pun yang dia lihat. Sekelompok ibu-ibu yang sedang berswafoto, beberapa orang yang sedang olahraga jogging, dan bus-bus pariwisata melintasi jalan untuk keluar dari kawasan Ancol.

            Indra hanya bisa menggelengkan kepala setiap adiknya bicara, sementara Derika mengikuti kedua orang di depannya dengan perasaan sedih. Sesekali dia menyalahkan dirinya tak mengecek aki mobil.

            “Ka!” Suara Liliane menyentak Derika dari lamunannya. “Kita nyebrang dulu kan?”

            “Eh…., iya-iya, kita nyebrang dulu.”

            Ketika sampai di lobi apartemen, Liliane tiba-tiba mendekati Derika.

“Maaf ya gue bawel mulu hari ini, Ka.”

Indra dan Derika sama-sama melihat Liliane.

“Udah lama gue gak jalan bareng sama lu, Ka.”

“Iya, gak apa-apa,” ucap Derika sambil melihat ke Liliane dan merangkul sejenak temannya. 

***

Derika membuka pintu unit apartemennya dan mengajak Liliane dan Indra masuk dahulu. “Oke, jadi di sini ada satu kamar tamu sama satu sofa bed. Kak Indra sama lu milih aja mau tidur di mana, Li.”

            “Gue di sini aja gak apa, Ka,” Indra meletakkan kopernya di dekat sofa bed berwarna merah.

            “Beneran lu, kak?” Liliane mengamati kakaknya.

            “Daripada kita semua dengerin lu ngorok di sini, Li,”

            Liliane gemas kakaknya berkata seperti itu dengan mimik wajah yang mengejeknya.

            “Gue gak ngorok ya,” Liliane mulai menggeret kopernya kembali. “Ya udah, gue mau mandi dulu. Gerah banget!”

            “Gih, sana!”

            Setelah Derika-Liliane-Indra sudah istirahat sejenak, mereka berjalan menuju sebuah restoran seafood. Derika dan Indra takjub melihat Liliane menyantap tiga porsi nasi.

            “Kenapa?” Liliane balas menatap dua orang di depannya. “Abis ini jalan-jalan sekitar jembatan yuk!”

           

 


(ilustrasi gambar oleh: Irsyad Rifqi (Pexels))

Komentar

  1. Ini masih ada lanjutannya ya kak? Aku belum menemukan maksud dari batu bata dan bunga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo, kak Candra! Makasih untuk pertanyaanya! Cerita ini untuk perkenalan tokoh utama di novel "Batu Bata dan Bunga". Terima kasih juga untuk masukkannya

      Hapus

Posting Komentar

Postingan Populer