Kala Berhenti, Mendapat Inspirasi : Refleksi Di Tahun 2025
Barangkali sebuah petaka terjadi untuk menyadarkan kita tentang apa yang selama ini dirindukan untuk terjadi. Itu yang terjadi (setidaknya) kepadaku.
Berawal dari memecahkan sesuatu, aku menyadari ternyata hidup yang aku jalani sudah menggambarkan peribahasa "Mati segan, hidup pun tak mau."
Untuk saat ini, tidaklah bijak menyebut diri ini mengalami depresi tanpa berkonsultasi ke ahlinya. Namun, aku mewanti-wanti diri sendiri untuk menyadari bisa saja aku ke arah sana.
Ternyata, aku hanya menjalani hidup hanya untuk bertahan (surviving) tanpa memikirkan bahwa aku perlu berkembang (thriving).
Mengapa Minat Itu Bisa Hilang?
Pelajaran dari Kesadaran Ini
Namun, apakah kesalahan yang aku lakukan seburuk itu?
Lantas, kalau aku tak menyadari salahku, bagaimana aku bisa menyadari kalau hidupku sedang tidak baik-baik saja?
Mana mungkin aku bisa tahu kalau aku butuh bantuan tangan dari Tuhan dan orang-orang terkasih di dekatku kalau aku tak melakukan kesalahanku?
Bahkan, apakah semua ini bisa disebut sebagai "sebuah kesalahan"?
Setidaknya, aku jadi mengerti ada satu garis batas dalam hidup ini: Hidup hanya sekadar menjalani hidup memang mudah dijalani, tetapi sulit untuk bisa dikatakan sebagai sebuah kehidupan.
Meskipun ada ketakutan yang pasti tak akan meninggalkanku dan terus melekat kepadaku, paling tidak aku belajar untuk menjadi pribadi lebih baik lagi.
Mau Mulai Lagi
Berangkat dari refleksi ini, tentu saja tak boleh jadi sebuah renungan yang dibiarkan berlalu. Maka dari itu, perlu ada rencana agar hal sama tak terjadi kembali.
Salah satu aksi bisa aku lakukan yaitu belajar sambil bekerja di dunia digital marketing, satu dunia yang tak pernah masuk ke dalam pikiranku sama sekali untuk meniti karir dari awal. Cara masuk ke dunia ini juga unik: "Menyemplungkan" diri dengan daftar ke sebuah course.
Apakah bisa dibilang menyenangkan? Ada kalanya.
Apakah ada kalanya dibikin pusing? Tentu saja, apalagi kalau waktu pembelajarannya bertabrakkan sama kegiatan lain (kebanyakkan sama kegiatan gereja)
Apakah tidak ada manfaatnya mempelajari bidang ini?
Tadinya aku berpikir begitu, tapi lama-lama aku menyadari tidak ada salahnya melakukan ini. Setidaknya, aku belajar bersama orang-orang yang juga berangkat dari tak tahu sama sekali dengan digital marketing. Selain itu, aku jadi punya waktu berpikir tentang masa depan.
Aneh memang, tapi ada kalanya kita perlu jalani kehidupan yang tak sesuai dengan kita agar kita tahu seperti apa kehidupan yang benar-benar kita inginkan untuk terjadi.
Selain mengembangkan diri di dalam dunia digital marketing, ada satu hal utama ingin aku lakukan: Menata kembali hubunganku dengan Tuhan, karena aku sadari aku membutuhkan sandaran hidup dan hanya aku bisa temukan di dalamNya.
Tahun depan, aku tak mau lagi kadang-kadang membaca firmanNya. Harus setiap hari.
Ini sebagai tonggakkan bagi hidupku. Itu saja.
Inilah renungan dariku tentang tahun 2025 ini. Apa renungan dan resolusi kalian di tahun 2026? Silakan berbagi di kolom komentar!
Terima kasih sudah menyimak postingan ini!


Komentar
Posting Komentar